KONSEP PENDIDIKAN MENURUT AL GHAZALI
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam
Pengampuh : Ust. Rikza Chamimi M.Si
Disusun Oleh:
1. Muhammad Mekki Almadani Aba (1803036120)
2. Malikhatun Aminah (1803036106)
3. Yuniar Dewi Karisa (1803036118)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2018
I . PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Imam Abu Hamid Al ghazali atau lebih
dikenal dengan imam Al ghazali seorang filsuf besar muslim yang hidup sekitar
abad ke 5 Hijriyyah atau abad ke 11 Masehi, beliau imam Al Ghazali pada
zamannya dijuluki sebagai Hujjatul Islam dikarenakan dapat memberi fatwa
dalam sudut pandang agama dan logika, hal ini tidak lepas pula dari sangat
luasnya pengetahuan beliau dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya agama islam
dan filsafat.
Beliau imam Al Ghazali adalah seorang
ulama’ sekaligus seorang ahli dalam bidang filsafat , beliau imam Al ghazali
sangatlah produktif dalam menulis kurang lebih ada 400 judul buku atau kitab
yang telah beliau karang yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Karya beliau
yang paling terkenal sampai sekarang yaitu kitab Ihya’ Ulumuddin,Maqasidul
Falasifah,Tahafutul Al falasifah dan masih banyak lagi.[1]
Dalam dunia pendidikan setiap orang
pasti mempunyai konsepnya sendiri sendiri. Begitu pula imam Al ghazali , beliau
memiliki corak konsep pendidikan yang berbeda dengan yang lain.Konsep
pendidikan Imam Al ghazali sampai sekarang terkadang masih digunakan dan masih
terus diteliti.
B . Rumusan
Masalah
1. Siapakah imam Al ghazali ?
2. Bagaimana konsep pendidikan
menurut imam Al ghazali ?
3. Bagaimana hubungan konsep
pendidikan menurut imam Al Ghazali dengan pendidikan masa kini?
II .
PEMBAHASAN
A . Riwayat
Hidup Imam Al-Ghazali
Imam Al Ghazali mempunyai nama lengkap
Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al Ghazali Ath-Thusi An Naysaburi.
Imam Al Ghazali dilahirkan di Thus, sebuah kota dikawasan persia pada tahun 450
H atau 1058 M .Ayahnya seorang pemintal woll. Imam Al Ghazali mempunyai seorang
saudara. ketika ayahnya akan meninggal ,dia berpesan pada seorang sahabat setia
agar kedua putranya diasuh dan disempurnakan pendidikannya.sahabat tersebut
segera melaksanakan wasiat ayah Al Ghazali dengan mendidik dan menyekolahkan
keduanya.setelah harta pusaka
peninggalan ayah mereka habis ,keduanya dinasehati agar meneruskan
mencari ilmu semampunya .imam Al Ghazali sejak kecil dikenal sebagai seorang
anak pecinta ilmu pengetahuan dan mencari kebenaran yang hakiki sekalipun
diterpa musibah.[2]
Imam Al Ghazali memulai menuntut ilmu
sejak masa kanak kanak sampai masa akhir hayatnaya.pada masa kanak kanak Imam
Al Ghazali memulai pendidikan dibawah bimbingan
syeh Ahmad bin Muhammad ar-Razikani. Ia diajari ilmu fiqih,
riwayat para awliya, dan kehidupan spiritual mereka.
Selang beberapa waktu beliau
imam al ghazali menjelajahi di berbagai negara untuk mencari berbagai disiplin
ilmu serta tidak lupa untuk berguru kepada para ulama’ ulama’ besar yang
ditemuinya dalam perjalanan nya. Dalam perjalana mencari ilmu imam Al Ghazali
menetap diberbagai kota seperti Baghdad, Damaskus, Yerussalim Palestina, Makkah
dan kota kota lain yang dilaluinya yang tak dapat disebutkan satu persatu.
Terakhir setelah beliau
mencari ilmu dan mendapat pekerjaan, beliau memutuskan meninggalkan pekerjaan
dan rumahnya,kemudian menuju ke syam untuk mencari jalan orang orang yang
bersungguh sungguh dijalan Allah(al jahidina), dan beliau melakukan khalwat
dimasji alumuwy dan gurun pasir berbatu di baitul maqdis.ia melakukan hal ini
sepuluh tahun,hingga ia mendapatkan keterbukaan, menyaksikan kebenaran,dan
terbuka jalan kesuksesan.setelah itu beliau kembali ke Baghdad dan menetapkan majelis
“Nashihat” Al Ghazali menceritakan hal ini dalam kitab Al Ihya’ yang ia tulis
dalam perjalanan dinegeri syam. Setelah itu ia meninggalkan Baghdad dan pergi
menuju tempat kelahirannya Thus.disinilah kemudian ia menyibukkan diri dengan
berdakwah dan melakukan dan melakukan
pengajaran hingga akhirnya ia wafat pada hari
Senin, 14 Jumadil Akhir tahun 505 H bertepatan 19 Desember 1111 M. saat
Usianya 55 Tahun. Ia wafat di desa
asalnya, Taberan, Persia.
Imam Al-Ghazali
termasuk ulama’ yang produktif. Beliau hidup selama 55 tahun dan sudah
menulis buku sejak usia 20 tahun. Keproduktifannya terlihat ketika ia
menghabiskan 10 sampai 11 tahun untuk membaca, menulis, dan mengajar.
Selain itu, dia harus menjawab sekitar dua ribu pucuk surat yang berasal
dari dekat dan jauh untuk meminta fatwa dan putusannya. Buku yang ditulis
oleh Sang Imam berjumlah 400 judul, antara lain :
1.
Di
bidang teologi: Al-Wasith (fikih Syafiiyah), Al-Basith al-Wajiz
(tentang hukum agama), Bayanul Qaulani lisy-Syafii, Khulasatur-Rasail
(inti fikih), Ikhtisarul-Mukhtasar, Ghayatul-Ghaur, Majmuatul fatawa
(Kumpulan putusan hukum), ar-Risatul Qudsiyyah (hukum-hukum agama dari
Nabi)
2.
Fikih:
Khulasatul Fiqh (saripati fikih), Al-Wajiz, Al-Iqtishad fil
I’tiqad (penjelasan akidah)
3.
Logika.
Mizanul Amal, Mihakhun- Nazhar fil Manthiq (Batu Asah Pemikiran tentang
Logika), Miyarul Ilm (Batu Timbang Ilmu), Al-Ma’arif (tentang diskursus
logika)
4.
Filsafat:
Maqashidul Falasifah (Tujuan Filosof), Munqidz minadh Dhalal (terlepas
dari kesesatan). Kitabul Arba‟in (ringkasan dari Ihya),
Ar -Risatul Laduniyyah (mengenai illham dan wahyu)
5.
Teologi
Skolastik: Tahafatul-falasifah (kerancuan Filosof), Iqtishad,
Mustajhari (mengenai petunjuk bagi kaum mualaf), Iljamtil Awam (Fitnah
Orang Awam), Faiisatuz Zindiq (Penolakan Kaum Ateis), Al-Fikr wal- Ibrah
(Meditasi dan Kontemplasi), Al-Hikmah (Kebijaksanaan Tuhan), Hakikatur-Ruh
(Hakikat Ruh)
6.
Spiritual
dan Moral: Ihya-Ulumuddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama),
Kimiya-i-Sa‟adat (Kimia Kebahagiaan), Akhlaqul Abrar ( Amalan Orang
Saleh), Jawahirul Qur‟an (Permata Al-Quran), daMinhajul Abidin (Jalan Para
Pengabdi), Bidayah Hidayah (Permulaan Petunjuk)
7.
Tafsir:
Yaqut At-Takwil ( berisi tafsir al-Quran dalam 40 Jilid yang
tidak terselamatkan)3
B . Konsep
Pendidikan Menurut Imam Al Ghazali
Dalam
pandangan Al-Ghazali yang dikutip oleh Mahmud dalam bukunya pemikiran
pendidikan islam 4mengatakan bahwa sentral dalam pendidikan
adalah hati,sebab hati adalah esensi dari
manusia. Menurutnya subtansi manusia bukanlah terletak pada unsur-unsur
yang ada pada fisiknya melainkan berada pada hatinya sehingga pendidikan
diarahkan pada pembentukan akhlak yang mulia.
Konsep
pendidikan menurut Al Ghazali komponen kompone pendidikan mempunyai tugas dan
tujuannya masing masing.Seperti guru, seorang guru tidak hanya mencerdaskan
pikiran, namun juga membimbing, mengarahkan,meningkatkan dan menyucikan hati
untuk mendekatkan diri kepada Allah.Jadi peranan guru disini tidak hanya
mentransfer ilmu melainkan mendidik.
Unsur
unsur pendidikan menurut imam Al Ghazali:
1.
Tentang tujuan pendidikan
Al Ghazali membagi tujuan pendidikan islam
menjadi tiga macam:
a.
Pertama,tujuan mempelajari ilmu pengethuan semata-mata
untuk ilmu pengetahuan saja.(Al Ghazali dalam kitabnya,ihya ulumuddin
berkata:”apabila anda mengadakan penelitian dan penalaran terhadap ilmu
pengetahuan,maka anda akan menjumpai kenikmatan padanya,karna tujuan mencari
ilmu adalah ilmu itu sendiri”.)
b.
Kedua,tujuan pendidikan adalah pembentukan ahlak.(Al
Ghazali dalam kitab mizanul amal berkata “bahwa tujuan mencari ilmu pada setiap
masa adalah untuk membentuk kesempurnaan dan ketentraman jiwanya”.)
c.
Ketiga,tujuan pendidikan adalah untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat.(dalam salah satu tulisanya ia berkata:”dan
sungguh engkau mengetahui bahwa hasil ilmu pengetahuan adalah mendekatkan diri
kepada tuhan pencipta alam, menghubungkan diri dan berhampiran dengan malaikat
,dan yang demikian itu di akhirat.adapun di dunia adalah kemuliaan,kebesaran,pengaruh
pemerintah bagi pimpinan negara,dan penghormatan menurut kebiasaanya”)
2.
Tentang pendidik
Al
Ghazali merumuskan syarat-syarat kepribadian seorang pendidik sebagai berikut:
a.
Sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid ,dan
harus diterima dengan baik.
b.
Senantiasa bersifat kasih sayang dan tidak pilih kasih.
c.
Jika duduk harus sopan dan tunduk,tidak ria dan pamer.
d.
Tidak takabur,kecual ipada orang yang zalim,dengan maksud
mencegah dari tindakanya.
e.
Bersikap tawadhu dalam pertemuan –pertemuan.
f.
Sikap dan pembicaraanya tidak main-main.
g.
Menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua
murid muridnya.
h.
Menyantuni serta tidak membentak-bentak orang yang bodoh.
i.
Membimbing dan mendidik orang yang bodoh dengan cara yang
sebaik-baiknya.
j.
Berani berkata “saya tidak tahu “terhadap masalah yang
tidak di mengerti.
k.
Menampilkan hujjah yang benar apabila ia berada dalam
hak,dan bersedia ruju’kepada kebenaran.
3.
Tentang peserta didik
Dalam
kaitannya dengan peserta didik atau dengan kata lain yaitu murid, lebih lanjut Al-Ghazali
menjelaskan bahwa mereka adalah makhluk yang telah dibekali dengan potensi atau
fitrah untuk beriman kepada Allah SWT. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah
SWT sesuai dengan kejadian manusia yang tabi’at dasarnya adalah cenderung
kepada agama tauhid (islam). Untuk itu, seorang pendidik betugas mengarahkan
fitrah tersebut agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan
penciptaannya sebagai manusia.
Dalam pandangan Al Ghazali, murid harus
mempunyai etika sebagi beikut:
a.
Mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak.
b.
Mengurangi hubungan keluarga dan menjauhi kampung
halamannya sehingga hatinya hanya terikat pada ilmu.
c.
Tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan menjauhi
tindakan tidak terpuji kepada guru, bahkan ia harus menyerahkan urusannya
kepadanya.
d.
Menjaga diri dari
mendengarkan perselisihan diantara manusia.
e.
Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga
ia dapat mengetahui hakikatnya.
f.
Mencurahkan perhatian terhadap ilmu yang terpenting,
yaitu ilmu akhirat.
g.
Hendaklah tujuan murid itu ialah untuk mnghiasi batinnya
dengan sesuatu yang akan mengantarkannya kepada Allah SWT.
4.Metode
pendidikan
Menurut Al-Ghazali metode perolehan ilmu
dapat dibagi berdasarkan jenis ilmu itu sendiri, yaitu ilmu kasbi dan ilmu
ladunni. (1) Ilmu kasbi dapat diperoleh melalui metode atau cara berfikir
sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui
proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan, yang mana memperolehnya
dapat menggunakan pendekatan ta’lim insani. (2) Ilmu ladunni dapat diperoleh
orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya
tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu, yang
mana memperolehnya adalah menggunakan pendekatan ta’lim rabbani.
Selain
itu, Al-Ghazali juga memakai pendekatan behavioristik dalam pendidikan yang
dijalankan. Hal ini terlihat dari pernyataannya, jika seorang murid berprestasi
hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar
hendaklah diperingatkan, bentuk apresiasi gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan
pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward dan punishment-nya
dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi. Al- Ghazali menggunakan tsawab
(pahala) dan uqubah (dosa) sebagai reward and punishment-nya. Disamping itu, ia
juga mengelaborasi dengan pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para
pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan
menghargai mereka sebagai manusia. Bahasa Al-Ghazali tentang hal ini adalah
bagaimana seorang guru harus bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang pada
murid selayaknya mereka adalah anak kandung sendiri.
Dengan
ungkapan seperti ini tentu ia menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh
guru. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang
memerlukan hubungan yang erat antara dua pribadi, yaitu guru dan murid. Dengan
demikian, faktor keteladanan merupakan metode pengajaran yang utama dan sangat
penting dalam pandangannya.
Menurut Al-Ghazali, pendidikan tidak
semata-mata sebagai suatu proses yang dengannya guru menanamkan pengetahuan
yang diserap oleh siswa, yang setelah proses itu masing-masing guru dan murid
berjalan di jalan mereka yang berlainan. Lebih dari itu, ia adalah interaksi
yang saling mempengaruhi dan menguntungkan antara guru dan murid dalam tataran
sama, yang pertama mendapatkan jasa karena memberikan pendidikan dan yang
terakhir dapat mengolah dirinya dengan tambahan pengetahuan yang di dapatkanya.
C. Hubungan
Konsep Pendidikan Menurut Imam Al Ghazali dengan Pendidikan Masa Kini
Dalam
beberapa pemikiran imam Al Ghazali tentang konsep pendidikan islam dengan
pendidikan masa kini ternyata masih ada hubungan dan kesamaan.
Tujuan
pendidikan islam menurut hasil studi pemikiran imam Al Ghazali ;Pertama,tujuan
mempelajari ilmu pengethuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan saja.Kedua,tujuan
pendidikan adalah pembentukan ahlak.Ketiga,tujuan pendidikan adalah
untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.hal ini berarti bahwa tujuan yang
telah ditetapkan oleh imam al ghazali berhubungan dan dominan dengan upaya
pendidikan yang dilakukan oleh pendidikan masa kini yaitu untuk
melibatkan pembentukan seluruh aspek kepribadian manusia secara utuh.hal ini
didukung pula oleh john s. brubacher dalam bukunya yang terkenal yaitu philosophies
of education yang mengemukakan bahwa tujuan dari pendidikan sebagai suatu
usaha pengembangan dan kelengkapan terhadap seluruh manusia secara
menyeluruh.sebagaimana telah kita ketahui bahwa pendidikan islam adalah proses
pemberdayaan manusia dalam proses sosialnya maupun proses sosialinya
Dewasa ini
muncul filsafat yang disebut filsafat pragematisme yang mendapat inspirasi dari
john dewey telah mengubah arah orientasi pendidikan. Filsafat pragematisme
mengabaikan konsep konsep kebenaran dan mengantikannya dengan kegunaan, dan
pengaruh itu berjalan terus , akhirnya terwujudlah manusi manusia yang
menghancurkan konsep keagungan dan kemuliaan diri manusia sendiri .
Pergantian
konsep tersebut mengharuskan kita untuk mengubah sistem pendidikan yang ada
sekarang yang menyangkut dasar,tujuan,materi,kualifikasi,sistem evaluasi
pendidikan, dan lain lain hingga kepada lulusan yang dihasilkan. sangat
disayangkan konsep pendidikan masa kini sudah mulai menghilangkan konsep pendidikan
ala pemikiran imam al ghazali tetapi tetap apda relevansi dengan pemikiran
beliau.
III .
PENUTUP
A . Kesimpulan
Konsep pendidikan imam al ghazali
mendidik tentang etika,moral,ahklak sehingga menjadi pribadi manusia yang
sempurna .lembaga lembaga pendidikan masa kini mempunyai upaya yang sama dengan
tujuan,metode,kurikulum, pemikiran imam al ghazali tetapi sangat disayangkan
ada beberapa aspek yang sudah mulai hilang dikarenakan adanya filsafat filsafat
baru yang kuarang sesuai dengan ajaran islam dan mulai mengubah pendidikan
dimasa kini.
Pembahasan dan penjelasan diatas
adalah sebuah bukti nyata bagaimana konsep pendidikan yang baik dan
benar,apabila hal diatas tidak terealisasikan maka akan timbul suatu faktor
yang sangat berpengaruh membuat melemahnya sistem pendidikan islam yang
berimbas pula pada kemunduran umat islam .
B . Saran
Demikianlah
makalah yang dapat kami susun,kami menyadari masih banyak kekurangan dan
kesalahan dalam penyusunan makalah ini.oleh karena itu,kritik dan saran yang
kontruktif sangat kami harapkan demi kemajuan makalah kami berikutnya.semoga
makalah ini dapat menambah wawasan pengetahuan pembaca pada umumnya dan penulis
pada khususnya.
DAFTAR PUSTAKA
BIOGRAFI SINGKAT PENULIS
[1] Henny Alifah.2015.Biografi,Sejarah,Karya imam Al Ghazali.www.satujam.com.Diakses
pada 25 september 2018.
[2] Heri Gunawan, Pendidikan Islam : kajian teoritis dan pemikiran tokoh,
(Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 325.