Sabtu, 29 Desember 2018

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT AL GHAZALI


KONSEP PENDIDIKAN MENURUT AL GHAZALI







Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam
Pengampuh : Ust. Rikza Chamimi M.Si

Disusun Oleh:
1.      Muhammad Mekki Almadani Aba  (1803036120)
2.      Malikhatun Aminah                         (1803036106)
3.      Yuniar Dewi Karisa                         (1803036118)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2018
I . PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
       Imam Abu Hamid Al ghazali atau lebih dikenal dengan imam Al ghazali seorang filsuf besar muslim yang hidup sekitar abad ke 5 Hijriyyah atau abad ke 11 Masehi, beliau imam Al Ghazali  pada  zamannya dijuluki sebagai Hujjatul Islam dikarenakan dapat memberi fatwa dalam sudut pandang agama dan logika, hal ini tidak lepas pula dari sangat luasnya pengetahuan beliau dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya agama islam dan filsafat.
       Beliau imam Al Ghazali adalah seorang ulama’ sekaligus seorang ahli dalam bidang filsafat , beliau imam Al ghazali sangatlah produktif dalam menulis kurang lebih ada 400 judul buku atau kitab yang telah beliau karang yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Karya beliau yang paling terkenal sampai sekarang yaitu kitab Ihya’ Ulumuddin,Maqasidul Falasifah,Tahafutul Al falasifah dan masih banyak lagi.[1]
       Dalam dunia pendidikan setiap orang pasti mempunyai konsepnya sendiri sendiri. Begitu pula imam Al ghazali , beliau memiliki corak konsep pendidikan yang berbeda dengan yang lain.Konsep pendidikan Imam Al ghazali sampai sekarang terkadang masih digunakan dan masih terus diteliti.

B . Rumusan Masalah
1. Siapakah imam Al ghazali ?
2. Bagaimana konsep pendidikan menurut imam Al ghazali ?
3. Bagaimana hubungan konsep pendidikan menurut imam Al Ghazali dengan pendidikan masa kini?


II . PEMBAHASAN

A . Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali
       Imam Al Ghazali mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Bin Muhammad Al Ghazali Ath-Thusi An Naysaburi. Imam Al Ghazali dilahirkan di Thus, sebuah kota dikawasan persia pada tahun 450 H atau 1058 M .Ayahnya seorang pemintal woll. Imam Al Ghazali mempunyai seorang saudara. ketika ayahnya akan meninggal ,dia berpesan pada seorang sahabat setia agar kedua putranya diasuh dan disempurnakan pendidikannya.sahabat tersebut segera melaksanakan wasiat ayah Al Ghazali dengan mendidik dan menyekolahkan keduanya.setelah harta pusaka  peninggalan ayah mereka habis ,keduanya dinasehati agar meneruskan mencari ilmu semampunya .imam Al Ghazali sejak kecil dikenal sebagai seorang anak pecinta ilmu pengetahuan dan mencari kebenaran yang hakiki sekalipun diterpa musibah.[2]
       Imam Al Ghazali memulai menuntut ilmu sejak masa kanak kanak sampai masa akhir hayatnaya.pada masa kanak kanak Imam Al Ghazali memulai pendidikan dibawah bimbingan  syeh Ahmad bin Muhammad ar-Razikani. Ia diajari ilmu fiqih, riwayat para awliya, dan kehidupan spiritual mereka.
       Selang beberapa waktu beliau imam al ghazali menjelajahi di berbagai negara untuk mencari berbagai disiplin ilmu serta tidak lupa untuk berguru kepada para ulama’ ulama’ besar yang ditemuinya dalam perjalanan nya. Dalam perjalana mencari ilmu imam Al Ghazali menetap diberbagai kota seperti Baghdad, Damaskus, Yerussalim Palestina, Makkah dan kota kota lain yang dilaluinya yang tak dapat disebutkan satu persatu.
       Terakhir setelah beliau mencari ilmu dan mendapat pekerjaan, beliau memutuskan meninggalkan pekerjaan dan rumahnya,kemudian menuju ke syam untuk mencari jalan orang orang yang bersungguh sungguh dijalan Allah(al jahidina), dan beliau melakukan khalwat dimasji alumuwy dan gurun pasir berbatu di baitul maqdis.ia melakukan hal ini sepuluh tahun,hingga ia mendapatkan keterbukaan, menyaksikan kebenaran,dan terbuka jalan kesuksesan.setelah itu beliau kembali ke Baghdad dan menetapkan majelis “Nashihat” Al Ghazali menceritakan hal ini dalam kitab Al Ihya’ yang ia tulis dalam perjalanan dinegeri syam. Setelah itu ia meninggalkan Baghdad dan pergi menuju tempat kelahirannya Thus.disinilah kemudian ia menyibukkan diri dengan berdakwah  dan melakukan dan melakukan pengajaran hingga akhirnya ia wafat pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir tahun 505 H  bertepatan 19 Desember 1111 M. saat Usianya 55 Tahun. Ia wafat di desa asalnya, Taberan, Persia.
       Imam Al-Ghazali termasuk ulama’ yang produktif. Beliau hidup selama  55 tahun dan sudah menulis buku sejak usia 20 tahun. Keproduktifannya terlihat ketika ia menghabiskan 10 sampai 11 tahun untuk membaca, menulis, dan mengajar. Selain itu, dia harus menjawab sekitar dua ribu pucuk surat yang berasal dari dekat dan jauh untuk meminta fatwa dan putusannya. Buku yang ditulis oleh Sang Imam berjumlah 400 judul, antara lain :
1.      Di bidang teologi: Al-Wasith (fikih Syafiiyah), Al-Basith al-Wajiz (tentang hukum agama), Bayanul Qaulani lisy-Syafii, Khulasatur-Rasail (inti fikih), Ikhtisarul-Mukhtasar, Ghayatul-Ghaur, Majmuatul fatawa (Kumpulan putusan hukum), ar-Risatul Qudsiyyah (hukum-hukum agama dari Nabi)
2.      Fikih: Khulasatul Fiqh (saripati fikih), Al-Wajiz, Al-Iqtishad fil I’tiqad (penjelasan akidah)
3.      Logika. Mizanul Amal, Mihakhun- Nazhar fil Manthiq (Batu Asah Pemikiran tentang Logika), Miyarul Ilm (Batu Timbang Ilmu), Al-Ma’arif (tentang diskursus logika)
4.      Filsafat: Maqashidul Falasifah (Tujuan Filosof), Munqidz minadh Dhalal (terlepas dari kesesatan). Kitabul Arba‟in (ringkasan dari Ihya), Ar -Risatul Laduniyyah (mengenai illham dan wahyu)
5.      Teologi Skolastik: Tahafatul-falasifah (kerancuan Filosof), Iqtishad, Mustajhari (mengenai petunjuk bagi kaum mualaf), Iljamtil Awam (Fitnah Orang Awam), Faiisatuz Zindiq (Penolakan Kaum Ateis), Al-Fikr wal- Ibrah (Meditasi dan Kontemplasi), Al-Hikmah (Kebijaksanaan Tuhan), Hakikatur-Ruh (Hakikat Ruh)
6.      Spiritual dan Moral: Ihya-Ulumuddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-ilmu Agama), Kimiya-i-Sa‟adat (Kimia Kebahagiaan), Akhlaqul Abrar ( Amalan Orang Saleh), Jawahirul Qur‟an (Permata Al-Quran), daMinhajul Abidin (Jalan Para Pengabdi), Bidayah Hidayah (Permulaan Petunjuk)
7.      Tafsir: Yaqut At-Takwil ( berisi tafsir al-Quran dalam 40 Jilid yang tidak terselamatkan)3

B . Konsep Pendidikan Menurut Imam Al Ghazali
       Dalam pandangan Al-Ghazali yang dikutip oleh Mahmud dalam bukunya pemikiran pendidikan islam 4mengatakan bahwa sentral dalam pendidikan adalah hati,sebab hati adalah esensi dari  manusia. Menurutnya subtansi manusia bukanlah terletak pada unsur-unsur yang ada pada fisiknya melainkan berada pada hatinya sehingga pendidikan diarahkan pada pembentukan akhlak yang mulia.
       Konsep pendidikan menurut Al Ghazali komponen kompone pendidikan mempunyai tugas dan tujuannya masing masing.Seperti guru, seorang guru tidak hanya mencerdaskan pikiran, namun juga membimbing, mengarahkan,meningkatkan dan menyucikan hati untuk mendekatkan diri kepada Allah.Jadi peranan guru disini tidak hanya mentransfer ilmu melainkan mendidik.
       Unsur unsur pendidikan menurut imam Al Ghazali:
1.      Tentang tujuan pendidikan
Al Ghazali membagi tujuan pendidikan islam menjadi tiga macam:
a.       Pertama,tujuan mempelajari ilmu pengethuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan saja.(Al Ghazali dalam kitabnya,ihya ulumuddin berkata:”apabila anda mengadakan penelitian dan penalaran terhadap ilmu pengetahuan,maka anda akan menjumpai kenikmatan padanya,karna tujuan mencari ilmu adalah ilmu itu sendiri”.)
b.      Kedua,tujuan pendidikan adalah pembentukan ahlak.(Al Ghazali dalam kitab mizanul amal berkata “bahwa tujuan mencari ilmu pada setiap masa adalah untuk membentuk kesempurnaan dan ketentraman jiwanya”.)
c.       Ketiga,tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.(dalam salah satu tulisanya ia berkata:”dan sungguh engkau mengetahui bahwa hasil ilmu pengetahuan adalah mendekatkan diri kepada tuhan pencipta alam, menghubungkan diri dan berhampiran dengan malaikat ,dan yang demikian itu di akhirat.adapun di dunia adalah kemuliaan,kebesaran,pengaruh pemerintah bagi pimpinan negara,dan penghormatan menurut kebiasaanya”)
2.      Tentang pendidik
      Al Ghazali merumuskan syarat-syarat kepribadian seorang pendidik sebagai berikut:
a.       Sabar menerima masalah-masalah yang ditanyakan murid ,dan harus diterima dengan baik.
b.      Senantiasa bersifat kasih sayang dan tidak pilih kasih.
c.       Jika duduk harus sopan dan tunduk,tidak ria dan pamer.
d.      Tidak takabur,kecual ipada orang yang zalim,dengan maksud mencegah dari tindakanya.
e.       Bersikap tawadhu dalam pertemuan –pertemuan.
f.       Sikap dan pembicaraanya tidak main-main.
g.      Menanam sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid muridnya.
h.      Menyantuni serta tidak membentak-bentak orang yang bodoh.
i.        Membimbing dan mendidik orang yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya.
j.        Berani berkata “saya tidak tahu “terhadap masalah yang tidak di mengerti.
k.      Menampilkan hujjah yang benar apabila ia berada dalam hak,dan bersedia ruju’kepada kebenaran.

3.      Tentang peserta didik
       Dalam kaitannya dengan peserta didik atau dengan kata lain yaitu murid, lebih lanjut Al-Ghazali menjelaskan bahwa mereka adalah makhluk yang telah dibekali dengan potensi atau fitrah untuk beriman kepada Allah SWT. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah SWT sesuai dengan kejadian manusia yang tabi’at dasarnya adalah cenderung kepada agama tauhid (islam). Untuk itu, seorang pendidik betugas mengarahkan fitrah tersebut agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan penciptaannya sebagai manusia.
  Dalam pandangan Al Ghazali, murid harus mempunyai etika sebagi beikut:
a.       Mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak.
b.      Mengurangi hubungan keluarga dan menjauhi kampung halamannya sehingga hatinya hanya terikat pada ilmu.
c.       Tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan tidak terpuji kepada guru, bahkan ia harus menyerahkan urusannya kepadanya.
d.       Menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia.
e.       Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga ia dapat mengetahui hakikatnya.
f.       Mencurahkan perhatian terhadap ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat.
g.      Hendaklah tujuan murid itu ialah untuk mnghiasi batinnya dengan sesuatu yang akan mengantarkannya kepada Allah SWT.
4.Metode pendidikan
      Menurut Al-Ghazali metode perolehan ilmu dapat dibagi berdasarkan jenis ilmu itu sendiri, yaitu ilmu kasbi dan ilmu ladunni. (1) Ilmu kasbi dapat diperoleh melalui metode atau cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan, yang mana memperolehnya dapat menggunakan pendekatan ta’lim insani. (2) Ilmu ladunni dapat diperoleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu, yang mana memperolehnya adalah menggunakan pendekatan ta’lim rabbani.
Selain itu, Al-Ghazali juga memakai pendekatan behavioristik dalam pendidikan yang dijalankan. Hal ini terlihat dari pernyataannya, jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar hendaklah diperingatkan, bentuk apresiasi gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward dan punishment-nya dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi. Al- Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan uqubah (dosa) sebagai reward and punishment-nya. Disamping itu, ia juga mengelaborasi dengan pendekatan humanistik yang mengatakan bahwa para pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik dan menghargai mereka sebagai manusia. Bahasa Al-Ghazali tentang hal ini adalah bagaimana seorang guru harus bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang pada murid selayaknya mereka adalah anak kandung sendiri.
Dengan ungkapan seperti ini tentu ia menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan yang erat antara dua pribadi, yaitu guru dan murid. Dengan demikian, faktor keteladanan merupakan metode pengajaran yang utama dan sangat penting dalam pandangannya.
Menurut Al-Ghazali, pendidikan tidak semata-mata sebagai suatu proses yang dengannya guru menanamkan pengetahuan yang diserap oleh siswa, yang setelah proses itu masing-masing guru dan murid berjalan di jalan mereka yang berlainan. Lebih dari itu, ia adalah interaksi yang saling mempengaruhi dan menguntungkan antara guru dan murid dalam tataran sama, yang pertama mendapatkan jasa karena memberikan pendidikan dan yang terakhir dapat mengolah dirinya dengan tambahan pengetahuan yang di dapatkanya.

C. Hubungan Konsep Pendidikan Menurut Imam Al Ghazali dengan Pendidikan   Masa Kini


Dalam beberapa pemikiran imam Al Ghazali tentang konsep pendidikan islam dengan pendidikan masa kini ternyata masih ada hubungan dan kesamaan.
            Tujuan pendidikan islam menurut hasil studi pemikiran imam Al Ghazali ;Pertama,tujuan mempelajari ilmu pengethuan semata-mata untuk ilmu pengetahuan saja.Kedua,tujuan pendidikan adalah pembentukan ahlak.Ketiga,tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.hal ini berarti bahwa tujuan yang telah ditetapkan oleh imam al ghazali berhubungan dan dominan dengan upaya pendidikan yang dilakukan oleh pendidikan masa kini yaitu untuk melibatkan pembentukan seluruh aspek kepribadian manusia secara utuh.hal ini didukung pula oleh john s. brubacher dalam bukunya yang terkenal yaitu philosophies of education yang mengemukakan bahwa tujuan dari pendidikan sebagai suatu usaha pengembangan dan kelengkapan terhadap seluruh manusia secara menyeluruh.sebagaimana telah kita ketahui bahwa pendidikan islam adalah proses pemberdayaan manusia dalam proses sosialnya maupun proses sosialinya

Dewasa ini muncul filsafat yang disebut filsafat pragematisme yang mendapat inspirasi dari john dewey telah mengubah arah orientasi pendidikan. Filsafat pragematisme mengabaikan konsep konsep kebenaran dan mengantikannya dengan kegunaan, dan pengaruh itu berjalan terus , akhirnya terwujudlah manusi manusia yang menghancurkan konsep keagungan dan kemuliaan diri manusia sendiri .
Pergantian konsep tersebut mengharuskan kita untuk mengubah sistem pendidikan yang ada sekarang yang menyangkut dasar,tujuan,materi,kualifikasi,sistem evaluasi pendidikan, dan lain lain hingga kepada lulusan yang dihasilkan. sangat disayangkan konsep pendidikan masa kini sudah mulai menghilangkan konsep pendidikan ala pemikiran imam al ghazali tetapi tetap apda relevansi dengan pemikiran beliau.  



















III . PENUTUP
A . Kesimpulan
            Konsep pendidikan imam al ghazali mendidik tentang etika,moral,ahklak sehingga menjadi pribadi manusia yang sempurna .lembaga lembaga pendidikan masa kini mempunyai upaya yang sama dengan tujuan,metode,kurikulum, pemikiran imam al ghazali tetapi sangat disayangkan ada beberapa aspek yang sudah mulai hilang dikarenakan adanya filsafat filsafat baru yang kuarang sesuai dengan ajaran islam dan mulai mengubah pendidikan dimasa kini.
            Pembahasan dan penjelasan diatas adalah sebuah bukti nyata bagaimana konsep pendidikan yang baik dan benar,apabila hal diatas tidak terealisasikan maka akan timbul suatu faktor yang sangat berpengaruh membuat melemahnya sistem pendidikan islam yang berimbas pula pada kemunduran umat islam .
B . Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami susun,kami menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini.oleh karena itu,kritik dan saran yang kontruktif sangat kami harapkan demi kemajuan makalah kami berikutnya.semoga makalah ini dapat menambah wawasan pengetahuan pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.









DAFTAR PUSTAKA


















BIOGRAFI SINGKAT PENULIS



[1] Henny Alifah.2015.Biografi,Sejarah,Karya imam Al Ghazali.www.satujam.com.Diakses pada 25 september 2018.
[2] Heri Gunawan, Pendidikan Islam : kajian teoritis dan pemikiran tokoh, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 325.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar